Sejarah dan Perkembangan Syi’ah di Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Syi’ah di Indonesia

Musuh kaum muslimin (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang paling berbahaya dan paling kejam adalah Syi’ah. Perjalanan berdarah kelompok ini tercatat dalam sejarah, ribuan jiwa kaum muslimin menjadi korban kekejaman kaum syi’ah. Ternyata musuh yang sangat kejam dan berbahaya ini, telah ada di Indonesia.

Kapan dan bagaimana Syi’ah bisa “bercokol” di bumi Nusantara? Sebuah pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab. Hampir tidak ada bukti yang valid dan autentik yang bisa menjelaskan tentang kapan dan bagaimana agama Syiah bisa masuk dan “bercokol” di Nusantara. Adapun sebatas klaim-klaim yang tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka sangatlah banyak.

Di antaranya adalah pernyataan salah satu tokoh Syiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, ketika ditanya tentang kapan kali pertama Syiah masuk ke Indonesia, dia menjawab,

Tidak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tidak menunjukkan dirinya Syiah, melainkan bertaqiyyah (berpura-pura) menjadi pengikut mazhab Syafi’i.”

(www.tempo.co)

Sebatas “saya duga”, tentu kebenarannya sangatlah diragukan. Hanya sebatas klaim tak berdasar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Terlebih lagi jika pernyataan tersebut tercium darinya aroma pekat fanatisme golongan.

Terlepas dari kapan pastinya dan bagaimana agama Syiah masuk ke Indonesia, pesatnya perkembangan Syiah di bumi Nusantara ini memiliki keterkaitan erat dengan “Revolusi Iran” yang meletus tahun 1979 M, sebuah gerakan revolusi yang dimotori oleh kaum Syiah Iran yang dipimpin oleh Khomeini untuk menggulingkan pemerintahan Iran yang berkuasa ketika itu. Namun sejatinya, Revolusi ini tidak lain hanyalah revolusi kaum Syiah yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Islam. Perlu dicatat bahwa sebelum itu, beberapa orang Indonesia sudah ada yang belajar di Qum, Iran!!

Setelah berhasilnya Revolusi Iran tersebut, berbagai bentuk tulisan yang berbau Iran mulai didistribusikan. Akibatnya, secara independen akidah Syiah tersiar di belantara nusantara. Tulisan-tulisan tokoh Syiah membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomeini, dan filsafat Syiah yang miring, oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.

  1. Penerbitan Buku

Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan  Syi’ah adalah Mizan, yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua merupakan lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada 7 Maret 1983. Buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000—3.000 eksemplar, berjudul Dialog Sunni-Syi’ah, Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kairo Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amili, Seorang Ulama Besar Syi’ah. Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.

Penerbit Syi’ah ini banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, yaitu Muhammad al-Bagir al-Habsyi, yang dikenal sebagai tokoh yang mengidolakan Syi’ah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syiah pada dekade 1980—1990, sehingga masyarakat pun mencap Mizan sebagai corong Syi’ah.

Kemudian Syi’ah menerbitkan sejumlah majalah dan buletin, hingga kini yang tersebar di antaranya;

– Majalah al-Quds, diterbitkan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam bahasa Indonesia;

– Majalah al-Mawaddah, diterbitkan oleh IJABI Cabang Bandung, Jabar;

– Majalah al-Hikmah, diterbitkan Yayasan al- Muthahhari Bandung;

– Bulletin al-Jawad dan al-Ghadir, diterbitkan oleh Yayasan al-Jawad Jakarta;

– Bulletin at-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan al-Muthahhari,

dan majalah serta buletin lainnya yang tersebar di Nusantara.

  1. Pendirian Yayasan

Pada 3 Oktober 1988, Haidar Bagir, Agus Effendi, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, serta Jalaludin Rakhmat, mendirikan Yayasan Muthahhari. Jalaludin Rakhmat pada awalnya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan Said Hawwa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Husein al-Habsyi membuatnya berafiliasi kepada Syi’ah dan mulai aktif berbicara seputar akidah Syi’ah.

Orientasi dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka dari itu, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syi’ah yang pertama di Kota Kembang Bandung.

Hingga 2001, Syi’ah telah mendirikan 36 yayasan di Indonesia dan terus bertambah sampai sekarang. Di antara yayasan yang telah mereka dirikan ialah

– Yayasan Fatimah, Condet Jakarta;

– Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta;

– Yayasan Mulla Shadra, Bogor;

– YAPI, Bangil;

– Yayasan Al-Itrah dan Yayasan Al-Hujjah, Jember;

– Yayasan Madina Ilmu, Bogor;

– Yayasan Al-Baro’ah Tasikmalaya;

– Yayasan As-Salam, Majalengka;

– Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta;

– Yayasan Rausyan Fikr, Jogya;

– Yayasan Al-Ishlah, Cirebon;

– Yayasan Al-Wahdah, Solo;

– Yayasan Al-Amin, Semarang;

– Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo;

– Yayasan Pintu Ilmu, Palembang;

– Yayasan Al- Hakim, Lampung;

– Yayasan Ulul Albab, Aceh;

– Yayasan Arridho, Banjarmasin;

dan lainnya.

  1. Pendirian Pesantren

Selanjutnya, pada 1989, berdiri pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak guna menjembatani para pelajar Syi’ah untuk bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran.

Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dikirim ke Iran untuk belajar, di samping ribuan lainnya yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan, dan kegiatan lainnya.

Di antara tempat pengajian, sekolah, dan pesantren milik Syi’ah adalah MT. Ar-Riyahi; Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah Jakarta; Pengajian Al-Bathul, Cililitan Jakarta; Majlis Ta’lim Al-Idrus, Purwakarta; Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang; MT Al-Jawad, Tasikmalaya; dan Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo.

Dalam kategori pesantren, tercatat

– Pesantren YAPI, Bangil (berdiri tahun 1976);

– Pesantren Al-Hadi, Pekalongan;

– SMA PLUS MUTHAHHARI, di Bandung dan Jakarta;

– ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Jakarta cabang London;

– Sekolah Lazuardi dari Pra-TK sampai SMP, Jakarta;

– Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok;

– dan Madrasah Nurul Iman, Sorong.

  1. Pendirian Ormas

Pada 1998, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan atau era reformasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi pemekaran Syi’ah di Indonesia. Hal itu menjadi jalan mulus untuk menanam bibit Syi’ah di Indonesia.

Bahkan, pada orde Gus Dur, berdirilah untuk pertama kalinya ormas Syi’ah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Ormas IJABI tepatnya berdiri pada tahun 2000 di Bandung dengan Jalaludin Rakhmat menjabat Ketua Dewan Syura IJABI dan Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan Tanfidziyyah. Posisi IJABI kemudian semakin kokoh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari Pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000.

Sampai tahun 2008, anggota yang terdaftar mencapai jumlah 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 subcabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Pada kongres pertamanya di Bandung, Jalaludin Rakhmat memberikan klaim bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.

Organisasi lainnya yang didirikan Syi’ah antara lain

– Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor;

– HPI—Himpunan Pelajar Indonesia—Iran;

– Shaf Muslimin Indonesia, Cawang;

– MMPII, Condet;

– FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok;

– Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT);

– Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan sekitarnya (BKPPI);

– dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).

Perkembangan demi perkembangan Syi’ah Indonesia ini memang patut diwaspadai. Tidak menutup kemungkinan – na’udzu billah – kalau Syi’ah telah menjadi besar di negeri kita ini, muslim (Ahlus Sunnah) akan menjadi sasaran kekejaman Syi’ah, seperti muslim Yaman yang diserang pasukan Houthi (al-Hutsi) dan muslim Irak yang dibantai pasukan al-Mahdi.

Maka dari itu, tidak ada kata lain, terhadap Syi’ah kita harus terus memasang status waspada.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *