Siapakah yang Radikal? Wahabi ataukah NU?

Siapakah yang Radikal? Wahabi ataukah NU?

Saudaraku sesama kaum muslimin, terlebih warga NU yang kami hormati…!

Sebelum kita jauh menyelami artikel berikut atau rubrik-rubrik lain yang ada dalam situs ini, ada baiknya kita semua berusaha untuk obyektif, berlapang dada, dan mau menerima nasihat.

Dengan meninggalkan sikap fanatik buta, pembelaan yang berlebihan, atau sikap meremehkan pihak lain. Karena itu semua sikap yang tercela, dan akan menjadi penghalang datangnya kebenaran kepada kita.

Sehingga apa yang tertulis dalam rubrik ini secara khusus atau dalam situs ini secara umum bagai sebuah cermin yang dibawakan oleh seseorang untuk saudaranya, agar saudaranya tersebut bisa berkaca, bisa melihat coreng-moreng yang ada diwajahnya, menyadarinya dan berusaha untuk membersihkan coreng-moreng tersebut.

Sebelumnya kami mohon maaf jika penggunaan kata-kata kami berikut ini tidak berkenan di hati saudara-saudara, karena terpaksa kami menggunakannya.

Pada sebuah kesempatan, Said Agil Siraj, seorang yang dianggap tokoh, dianggap seorang cendekiawan muslim, apalagi dengan embel-embel gelar akademis Profesor Doktor di depan namanya, demikian pula karena dia diposisikan sebagai “pemimpin” di ormas NU, sehingga menjadikan banyak orang yang terpesona dan tersamar dari hakikat yang sebenarnya.

Dia pernah memprovokasi umat Islam dengan mengaitkan dakwah Wahabi [1] dengan arogansi, teror, anarkis dan radikalisme.

NU Anarkis

Bahkan menurut logika sepintasnya, dalam ajaran Salafi Wahabi diajarkan benih-benih radikalisme dan terorisme yang berujung pada doktrin pengeboman di berbagai tempat.

Saudara-saudaraku coba kita renungi…

Tentunya sangat disayangkan, seorang yang dianggap tokoh dan diposisikan sebagai pemimpin “ormas Islam yang katanya terbesar di dunia (NU)”, mengeluarkan statement yang sangat berbahaya dan menyesatkan umat.

Umat yang banyak tidak memahami akar permasalahan, umat yang senantiasa hanya mengikut (membebek) kepada tokoh-tokoh mereka, umat yang hampir tidak pernah mendapatkan pencerahan, umat yang senantiasa dididik untuk taklid buta dan fanatisme pada kelompoknya, menjadi korban dari komentar yang arogan ini.

Ibarat kata pepatah: “Semut di seberang lautan tampak jelas kelihatan, sedangkan gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.”

Menuduh pihak-pihak lain sebagai kelompok yang arogan, penebar teror, anarkis dan radikal. Namun bersamaan dengan itu menutup mata dari borok-borok kelompoknya sendiri.

Sebelum kita melanjutkan, ada baiknya kita melihat beberapa definisi berikut ini:

Bila dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Arogansi bermakna : mempunyai sikap superioritas, yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah (sombong).

Masih dalam KBBI, “Teror bermakna sebuah usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Meneror” adalah berbuat kejam (sewenang-wenang dan sebagainya) untuk menimbulkan rasa ngeri dan takut.

Adapun Anarkis“, dalam KBBI bermakna : orang yang melakukan tindakan anarki (kekacauan) di suatu negara.

Sedangkan Radikalisme dalam KBBI bermakna : paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Sehingga tercakup dalam pembahasan ini semua upaya yang dilakukan oleh seseorang atau golongan, untuk menciptakan rasa ketakutan, dan kengerian. Atau untuk menimbulkan kekacauan di suatu negara dalam upaya melakukan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik yang drastis, meskipun harus dilakukan dengan cara kekerasan dan kekejaman (sewenang-wenang). Yang ini semua bermuara pada sikap superioritas, merasa paling mayoritas, merasa paling benar, merasa paling berkuasa, merasa paling hebat, sombong dan semisalnya.

Termasuk dalam kategori di atas adalah teror yang berupa statement-statement, orasi, ceramah, ancaman-ancaman, intimidasi, demonstrasi, pengerahan massa, sikap politik, pendudukan sebuah tempat, pengrusakan, pembakaran, penculikan, atau bahkan pembunuhan, dalam rangka memuluskan tujuan yang dikehendakinya.

Dengan mengetahui definisi diatas, disadari atau tidak, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, namun dari realita yang ada kita akan melihat dan mendapati arogansi, teror, anarkis dan radikalisme yang dilakukan oleh kelompok NU, ormas-ormas yang berafiliasi pada NU, tokoh-tokoh NU, dan para warga NU.

 ———————————–

[1] (Kami meminjam istilah mereka, meski sebenarnya istilah ini tidak benar)

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *