Abdullah bin Saba’, Sang Penyulut Api Fitnah

Abdullah bin Saba’, Sang Penyulut Api Fitnah

Kata Syi’ah secara bahasa bermakna pengikut dan penolong/pembela. Contohnya disebutkan dalam al-Qur’an :

{إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (4)} [القصص: 4]

Sesungguhnya Fir’aun sombong di muka bumi, dan menjadikan rakyatnya bersyi’ah-syi’ah (bergolongan-golongan), melemahkan sekelompok dari mereka. Menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Sesungguhnya Fir’aun termasuk para perusak.”

Kata “Syi’ah” kemudian dimutlakkan (ditujukan) kepada sebuah firqah/kelompok/sekte menyimpang yang mengklaim atau mengaku-ngaku bahwa mereka adalah pengikut dan penolong serta pembela ahlul bait terutama Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya. (Lamhah ‘Anil Firaq Adh-Dhallah)

Sekte syi’ah didirikan oleh seorang zindiq yang bernama Abdullah bin Saba’ yang merupakan keturunan Yahudi Yaman, tepatnya dari kota Shana’. Orang ini juga dikenal dengan sebutan ibnu Sauda’ karena ibunya adalah seorang wanita yang berkulit hitam (ibnu Sauda’ bermakna putra seorang wanita berkulit hitam). Maka suatu hal yang pantas jika syi’ah ini memiliki banyak sisi persamaan dengan Yahudi, karena sang pelopornya adalah seorang keturunan Yahudi. Awal kemunculannya adalah pada akhir masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan. Dengan bertopengkan Islam (baca: munafik), pemahaman-pemahaman sesat dia tebarkan di tengah-tengah kaum muslimin melalui berbagai macam cara dan upaya. Melalui kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan penampakan giat beribadah, dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat dan kufur yang dia hembuskan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya demi mencapai impiannya.

Sungguh, Ibnu Sauda’ ini sangat gencar untuk menghancurkan Islam, sebagaimana Paulus yang juga merupakan orang Yahudi merubah warna menjadi salah seorang penganut agama Kristen dalam rangka menghancurkan agama Kristen itu sendiri.Yang demikian ini bukan suatu hal yang aneh karena memang syi’ah bersumber dari Yahudi yang punya karakter buruk, licik, serta penuh makar terhadap islam dan kaum muslimin. Bukankah Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini!

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

Sesungguhnya kamu akan mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Ma’idah: 82)

Sehingga sebuah kedustaan besar bila orang-orang Syi’ah dewasa ini mengambil sikap dan berupaya menampakkan permusuhan yang keras terhadap Yahudi. Bagaimanapun juga syi’ah dan pemahamannya tidak akan bisa dilepaskan dari Yahudi.

Sekte ini kian meradang saat kekhalifahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Dengan berlagak cinta terhadap Ali bahkan sampai-sampai menamakan diri sebagai Syi’atu Ali (Pembela ‘Ali), kelompok sempalan Syi’ah ini kian merajalela. Terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan, Husein bin Ali bin Abi Thalib, hancurnya daulah Abbasiyah bahkan dikuasainya Baitul Maqdis oleh kaum Nasrani merupakan sederet saksi sejarah yang menunjukkan akan pengkhianatan serta kejahatan syi’ah terhadap Islam dan umat Islam. Sungguh tangan-tangan Syi’ah telah berlumuran darah dari sejak mulai munculnya hingga di zaman kita hidup sekarang.

Memang benar apa yang diucapkan oleh Ibnu Taimiyyah :

”Sesungguhnya penyebab utama kejelekan dan bencana adalah syi’ah dan yang bergabung bersamanya. Mayoritas pedang yang terhunus di dalam sejarah Islam adalah dari arah mereka. Kemunafikan telah menyelimuti mereka. Mereka bahkan memberikan loyalias kepada musuh-mush agama ini, yaitu Yahudi, Nasrani dan musyrikin. Mereka justru memusuhi wali-wali Allah, orang-orang pilihan yang menganut agama ini dan orang-orang yang bertakwa.” (Minhajus Sunnah)

Para orientalis bersama para pengusung syi’ah berupaya keras menghilangkan jejak Ibnu Saba’ dari tarikh (sejarah) dan menampakkannya sebagai tokoh fiksi. Mereka berupaya keras menanamkan kepada umat pengingkaran akan keberadaan Ibnu Saba’ meskipun dengan argumen-argumen yang tampak sangat jelas direkayasa dan sangat lemah layaknya sarang laba-laba, bahkan tidak sedikit yang dibumbui dengan kedustaan-kedustaan. Karena memang yang namanya kedustaan merupakan salah satu “makanan pokok” mereka, yang hal ini sering diistilahkan dengan ‘taqiyyah’. Padahal senyatanya, keberadaan Ibnu Sauda’ ini telah disepakati oleh ulama ahli tarikh (sejarah) bahkan lebih dari itu buku-buku rujukan syi’ah sendiri menetapkan keberadaan sang penyulut api fitnah ini.

Syi’ah dalam perkembangannya mengalami sejumlah pergeseran. Seiring dengan berputarnya roda waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang.

Inilah sejarah munculnya sekte syi’ah secara ringkas. Insya Allah pada pembahasan berikutnya kita akan sajikan kepada para pembaca kronologis singkat tentang peristiwa-peristiwa berdarah yang dilakukan oleh sekte yang satu ini. Allahu ta’ala a’lam bishshawab.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *