KH Anwar Zahid: Kenapa Sahabat Nabi Tak Merayakan Maulid? (3)

KH Anwar Zahid: Kenapa Sahabat Nabi Tak Merayakan Maulid? (3)

ITTIBA’ KEPADA NABI DAN MENJALANI PERINTAH RASULULLAH ADALAH BUKTI NYATA CINTA RASUL

Sangat kita sayangkan tidak sedikit dari kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi justru enggan menjalani perintah Rasul, jauh dari bimbingan beliau, bahkan mengolok-ngolok Sunnah Nabi. Padahal mereka mengklaim cinta Nabi, mengaku cinta Rasul.

Baca kembali di:

http://www.yuk-kenal-nu.net/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-menghina-islam-1/

http://www.yuk-kenal-nu.net/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-menghina-islam-2/

http://www.yuk-kenal-nu.net/pengakuan-tokoh-liberal-nusantara-wahabi-adalah-aswaja-sejati/

Padahal Allah ta’ala telah memerintahkan dalam ayatnya:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kepada kaum muslimin dalam sabdanya:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits shahih)

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku“ (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Maka cukup bagi kaum muslimin untuk beramal dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman para Shahabat radhiallahu ‘anhum, dan wajib bagi kaum muslimin untuk menjauhi berbagai perkara baru dalam agama, karena akan menyeret pelakunya ke dalam kesesatan.

Karena semata-mata mencintai Nabi tanpa meniti jalannya dan jalan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya yakni para Shahabat, adalah kecintaan yang palsu.

Dengan tegas Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي ﴿٣١﴾

Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku.” (Ali Imran: 31)

Ahmad bin Abdul Halim rahimahullahu berkata:

“Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul terletak pada (kuatnya) ittiba’ (mengikuti jejaknya), ketaatan kepadanya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya lahir maupun batin, dan menyebarkannya serta berjihad dalam upaya tersebut baik dengan hati, tangan dan lisan.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim: 2/122)

MERAYAKAN MAULID NABI ADALAH BID’AH HASANAH

Jika ada kaum muslimin yang menyatakan merayakan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), perkara baru dalam agama yang boleh dilakukan, maka cukuplah bagi kita nasihat para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah berikut ini:

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barangsiapa yang menganggap baiknya suatu amalan (tanpa dalil), berarti ia telah membuat syari’at.” (al-Muhalla fi Jam’il Jawaami’ 2/395)

Cukuplah sebagai bukti kesesatannya dan bukan hasanah, ketika Rasulullah, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka (termasuk imam yang empat), tidak melakukannya dan tidak pernah membimbing umat untuk mengerjakannya. Kalaulah ia hasanah, pasti mereka telah merayakannya dan menyumbangkan segala apa yang mereka punya untuk acara tersebut, namun ternyata mereka tidak melakukannya.

Shahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

“Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya hasanah (baik).” (al-Ushul I’tiqad al-Lika’i: 1/109)

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata:

“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam agama yang dia pandang itu adalah baik, sungguh ia telah menuduh bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat terhadap risalah (yang beliau emban).

Karena Allah ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ ﴿٣﴾

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama bagi kalian, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah ridha Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Atas dasar ini, segala perkara yang pada waktu itu (yakni di masa nabi/para sahabat) bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pula perkara itu bukan termasuk agama.” (al-I’tisham: 1/49)

Oleh karena itu, kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin untuk mencukupkan diri beramal dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman para Shahabat radhiallahu ‘anhum, dan menjauhi serta meninggalkan berbagai perkara baru dalam agama. Termasuk didalamnya perayaan Maulid Nabi.

Kita khawatir bukan rahmat dan maghfirah yang didapatkan, justru termasuk orang-orang merugi yang telah Allah ta’ala kabarkan:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾

Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Wallahu A’lam

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *