Antara Pembunuhan Santri, Musibah Crane, Tragedi Mina dan Reaksi NU

Antara Pembunuhan Santri, Musibah Crane, Tragedi Mina dan Reaksi NU

Coba bandingkan dengan berbagai tuduhan tokoh elite NU kepada negara tauhid Arab Saudi ketika terjadi musibah Crane dan Mina dalam musim haji tahun 2015 yang lalu.

Seolah-olah tidak ada udzur bagi pemerintah Arab Saudi, padahal masyarakat dunia mengetahui dengan gamblang jika dua kejadian tersebut benar-benar musibah. Namun tidak demikian bagi ormas NU, musibah tersebut dijadikan oleh tokoh-tokoh NU untuk menikam pemerintah Arab Saudi.

Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama (NU), Agus Sunyoto, dengan mudahnya menyalah-nyalahkan pemerintah Arab Saudi, dia berkata:

“Ketika musim haji, seharusnya pembangunan dihentikan, tidak diteruskan begitu. Ini kan (menyangkut) keselamatan banyak orang. Akhirnya ketika terjadi kecelakaan kerja, jemaah yang jadi korban, banyak,”

Silakan simak kembali di:

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/17/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-1/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/18/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-2/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/18/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-3/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/19/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-4/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/19/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-5/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/09/20/wahai-nu-hendaklah-arif-menyikapi-musibah-crane-masjidil-haram-6/

Bahkan majalah resmi NU Aula mengeluarkan edisi khusus untuk mendiskreditkan Arab Saudi selaku pengelola ibadah Haji dan pelayan dua tanah haram Makkah al-Mukarramah dan Madinah an-Nabawiyyah.

Reaksi NU

Tidak kalah sengitnya tokoh-tokoh NU terus berupaya menggerogoti wibawa negara tauhid Arab Saudi dengan menggunakan amunisi musibah tragedi Crane dan tragedi Mina.

Sebut saja Sekjen PBNU A. Helmy Faishal Zaini, yang menulis secara khusus dalam harian Jawa Pos yang terbit tanggal 6/10/2015, juga dimuat dalam situs Online Jawa Pos pada hari yang sama, dengan judul:

“Makkah dan Kapitalisme Ibadah”

Reaksi NU1

Simak kembali pembahasannya di:

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/10/10/makkah-dan-kapitalisme-ibadah-1/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/10/11/makkah-dan-kapitalisme-ibadah-2/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/10/12/makkah-dan-kapitalisme-ibadah-3/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/10/13/makkah-dan-kapitalisme-ibadah-4/

http://www.yuk-kenal-nu.net/2015/10/14/makkah-dan-kapitalisme-ibadah-5/

Sungguh, satu sikap yang tidak terpuji dari ormas NU dan jauh dari sikap adil. Memanfaatkan musibah yang melanda tanah suci kaum muslimin untuk kepentingan sepintas NU dan golongannya.

Tentu dua musibah di tanah suci Makkah tersebut tidak bisa disamakan dengan peristiwa pembunuhan keji yang dilakukan santri NU kepada santri NU lainnya, di Ponpes NU Darul Ulum Jombang saat ini.

1. Karena jelas ada unsur kesengajaan, bahkan nampak terencana, terbukti dari dua kali aksi pengeroyokan yang terjadi. Demikian pula aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok santri, yang menunjukkan kebengisan dan kekejaman mereka, serta lebih tepat disebut pembantaian.

Berbeda dengan musibah Crane dan tragedi Mina yang murni musibah. Kalaupun kita sebut adanya “Sabotase”, sebagaimana dikatakan ormas NU, maka pelakunya adalah kaum Syi’ah Iran, yang sering dibela dan diperlakukan oleh NU sebagai sahabat mereka.

2. Mengelola lembaga pendidikan sekelas Ponpes NU Darul Ulum Jombang tentu lebih mudah daripada harus mengurus pelaksanaan ibadah haji kaum muslimin, yang jama’ahnya mencapai jutaan orang, dari berbagai etnis, suku, dan bangsa. Dengan keragaman adat, budaya, karakter dan selainnya. Yang tentu membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang ekstra dari Arab Saudi selaku pengelolanya.

3. Pemerintah Arab Saudi dengan tanggap, tepat, disertai penuh amanah serta tanggung jawab dengan cepat menangani dua musibah tersebut.

Sangat bertolak belakang dengan kejadian pembunuhan santri NU di atas, justru para pengasuh Ponpes NU Darul Ulum Jombang berdusta dengan mengatakan korban meninggal karena kesehatannya drop. Bahkan kejadian pembunuhan ini baru terungkap setelah kepolisian turun tangan menyelidikinya, itupun atas laporan dari keluarga korban yang melihat berbagai kejanggalan pada mayat.

Lantas pertanyaannya, ucapan:

“Kami sangat menyayangkan tragedi itu, dan kami anggap ini musibah.”

Bukankah pernyataan tersebut lebih pantas diucapkan oleh NU ketika menyikapi musibah Crane dan tragedi Mina?

Maka berlaku jujur dan adillah!

Karena Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kaum muslimin:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّـهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨﴾

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *