Ahlussunnah dan Takfir

Ahlussunnah dan Takfir

Islam adalah agama damai nan penuh kasih sayang. Kaum muslimin adalah orang-orang yang sayang kepada hamba Allah, terlebih sesama mereka. Hal ini sebagai buah dari iman yang menancap kuat dalam sanubari yang terbangun di atas ilmu yang jernih dalam hati.

Terlebih ahlussunnah waljama’ah generasi yang komitmen dengan Islam dan sunnah, lebih penyayang kepada hamba Allah kaum mukminin dibandingkan selain mereka.

Tidaklah berlebihan jika seorang alim dari ulama Islam berkata:

((وَأَهْلُ السُّنَّةِ يَتَّبِعُونَ الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمُ الَّذِي جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ… بَلْ هُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ وَأَرْحَمُ بِالْخَلْقِ ((منهاج السنة

“Ahlussunnah mengikuti kebenaran dari Rabb mereka yang dibawa Rasul….bahkan mereka orang-orang yang paling mengerti tentang kebenaran dan paling penyayang kepada makhluk.” (Minhajus Sunnah)

Kenapa demikian?

Karena ahlussunnah tidak mudah memvonis saudaranya seislam dengan vonis kefasikan, kemunafikan atau kekafiran, sampai tegak dalil dan bukti yang kuat serta terpenuhi syarat dan hilang berbagai penghalang. Hal ini tidak lain sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap kaum muslimin dan senantiasa menginginkan keselamatan mereka dan umat manusia secara umum.

Itulah prinsip Islam yang diemban Nabi shalallahu alaihi wasallam yaitu bersikap lembut kepada kaum mukminin dan selalu menginginkan keselamatan untuk mereka dunia akhirat. Hal itu tergambar dalam firman-Nya :

لقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” [QS. at-Taubah 128]

Ahlussunnah meyakini bahwa hukum syar’i adalah hak mutlak milik Allah subhanahu wata’ala yang wajib dikembalikan kepada-Nya semata, termasuk hukum takfir.

Mereka tidak akan mendahului Allah dalam penetapan hukum syar’i sebagai perwujudan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

Berkata al-Imam Dhahak bin Muzahim rahimahullah:

لا تقضوا أمرا دون الله ورسوله من شرائع دينكم

“Jangan kalian menghukumi suatu perkara sebelum Allah dan rasul-Nya (menghukumi) dari syariat agama kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Oleh karena itu ahlussunnah bukanlah orang-orang yang gampang mengkafirkan kaum muslimin sebagaimana sering dituduhkan!

Walillahil hamdu

BUDAYA TAKFIR CIRI KAUM TERORIS KHAWARIJ

Berbeda dengan kaum teroris Khawarij atau kelompok lain semisal Syiah Rafidhah. Mereka sangat mudah mengkafirkan kaum muslimin hanya karena menyelisihi akidah atau prinsip mereka yang sesat. Bahkan takfir muslimin dan pemerintah muslimin benar-benar membudaya ditengah-tengah mereka.

Allahul musta’an….!

Khawarij misalnya memvonis kafir setiap muslim hanya karena terjatuh pada dosa besar, seperti berzina, minum khamr dan lainnya. Juga mereka mudah mengkafirkan penguasa muslimin hanya karena berhukum dengan selain hukum Allah, tanpa dirinci sebagaimana syariat merincinya.

Tidak jauh berbeda dengan Syiah Rafidhah yang menghalalkan darah kaum muslimin, karena meyakini kafirnya selain Syiah dengan sekian alasan palsu, seperti membenci ahlul bait atau alasan lainnya dari kedustaan mereka.

Sementara ahlussunnah berada di tengah dua kelompok ekstrem ini. Ahlusunnah tidak mudah mengkafirkan dan jika dituntut mengkafirkan maka tetap berpijak pada metode takfir yang telah dijelaskan.

Wallahu a’lam

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *