Larung Sesaji, Tradisi Menyelisihi Syar’i?

Larung Sesaji, Tradisi Menyelisihi Syar’i?

Larung sesaji atau yang semakna dengan istilah ini sering terdengar oleh kita. Terlebih di bulan Muharam (Suro, bhs jawa).

Sajen, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan untuk makhluk halus. Sajen adalah satu bentuk laku spiritual. Sebagaimana diketahui, seseorang tidak ingin mendapatkan gangguan apa pun dalam kehidupannya. Seseorang selalu ingin hidup yang diwarnai oleh harmoni. Dalam tujuan menggapai harmoni inilah sebagian manusia lantas melakukan laku spiritual sajen.

Dengan laku spiritual tersebut, diharapkan yang menguasai (mbaurekso) tempat tertentu tidak mengganggu mereka, menimpakan malapetaka dan bencana. Dengan demikian, akan tercipta kehidupan yang aman dan nyaman.

Itulah dasar pemikiran orang-orang yang melakukan laku spiritual dalam bentuk sajen. Hal ini tentu berakar dan berasal dari kepercayaan animisme, yaitu sebuah paham yang mendasarkan keyakinan pada peranan makhluk halus atau roh-roh (anima).

TRADISI LARUNG SESAJI PETIK LAUT

Petik Laut berarti memetik, mengambil, memungut atau memperoleh hasil laut berupa ikan yang mampu menghidupi nelayan dan masyarakat di sekitarnya.

Kegiatan masyarakat secara beramai-ramai melakukan upacara di tengah laut, sesuai dengan tradisi yang masih hidup di lingkungan masyarakat nelayan sebagai usa­ha mewarisi tradisi para leluhur yang sudah berlang­sung sejak lama.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan Petik Laut ini antara lain:

Agar selalu memperoleh per­lindungan dan dijauhkan dari segala marabahaya, dianugerahi keselamatan dan hasil yang lebih me­limpah lagi.

Kelengkapan upacara (Uborampe)

Kelengkapan upacara yang dianggap penting ada­lah berbentuk sesaji berupa kue, masakan dan makanan, yang menonjol berupa :

Kepala kambing atau kepala kerbau, kue-kue, buah-buahan, pancing, nasi tumpeng, dan ayam jantan hidup beberapa ekor.

Semua kelengkapan sesaji tersebut disusun sedemikian rupa dimasukkan ke dalam sebuah perahu kecil yang dihiasi berwarna-warni, sebelum dilarung, terlebih dahulu di bacakan do’a-do’a (lebih tepatnya mantra-mantra) tertentu oleh pawangnya, baru keesokan harinya dilabuh atau dilarung ke laut.

KEYAKINAN DI MASYARAKAT

Selain ada nilai ekonomis, sebagian masyarakat meyakini bahwa yang mendapatkan bagian dari sesaji tersebut akan mendapat berkah yang sangat besar.

Sehingga masyarakat tampak antusias untuk berebut mendapatkan sesaji yang tengah dilarung ke tengah laut. Bahkan tidak jarang, sempat terjadi ketegangan saat berebut sesaji tersebut.

Demikian gambaran singkat tradisi masyarakat bahari, melaksanakan larung sesaji.

Mereka beralasan, laku spiritual ini dilandasi dengan niat baik, dalam rangka bersyukur, sedekah dan yang lainnya.

Bersyukur dan bersedekah adalah perbuatan terpuji, mengandung nilai ibadah, disamping niat yang harus ikhlas, maka tatacaranya harus dalam bingkai koridor agama dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena demikianlah syarat diterimanya amal.

Apabila masyarakat nelayan -yang secara mayoritas kita dapati dari warga NU– melakukan ritual tanpa bimbingan, maka dikhawatirkan justru amalan yang dilakukan keluar dari nilai kemuliaan yang diinginkan. Bahkan perilaku ritual tersebut justru dapat membahayakan agama serta akidahnya.

Persembahan sesajen dengan tata cara yang demikian, seperti; membuang kepala kambing ke laut, menanam kepala kerbau dan sebagainya adalah perbuatan yang menyeret pelakunya ke dalam kubangan kesyirikan. Karena telah keluar dari koridor bimbingan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendapat nikmat dan rezeki melimpah seharusnya bersyukur dengan cara terukur sesuai dengan koridor syar’i. Bukan dengan cara yang justru melanggar ajaran agama.

Islam agama yang sempurna, telah menjelaskan dan memberikan solusi untuk semua permasalahan.

Allah ta’ala berfirman:

اللَّـهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿١٢﴾

Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kalian supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kalian dapat mencari sebagian karunia -Nya dan Mudah-mudahan kalian bersyukur.” (al-Jatsiyah: 12)

Demikian pula Allah ta’ala telah melarang:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾

Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat memberi mudharat kepadamu. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian ) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

Maka memperbaiki keadaan masyarakat yang seperti ini, menjadi kewajiban dan tanggung-jawab kita semua (para da’i, kiai, ustadz). Untuk memberi pencerahan, membimbing umat, memberi nasihat dengan cara yang cermat dan tepat disertai akhlak yang luhur.

Kami yakin warga NU adalah orang yang senang dan bersemangat untuk mencontoh dan meneladani manusia yang paling kita agungkan dan muliakan, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik dan kemudahan kepada kita semuanya untuk menerima ajaran dan tutunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Amin

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *