Fakta Telah Membenarkan Berita Yang Datang Dari Rasul

Fakta Telah Membenarkan Berita Yang Datang Dari Rasul

Setelah menyapa kita contoh berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan peristiwa umat terdahulu. Marilah kita simak dan cermati berita dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa yang terjadi pada waktu itu dan yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Al-Imam Muslim Rahimahullah di dalam Shahihnya menyebutkan penuturan sahabat yang mulia Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhai keduanya- yang mengisahkan bahwasanya pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar dengan diapit para sahabatnya, beliau melewati bangkai seekor kambing yang kecil salah satu telinganya, maka beliau mengangkat telinganya sembari bersabda:

Siapa diantara kalian yang ingin membelinya dengan satu dirham?

para sahabat menjawab,

“Kami tidak menyukainya sedikitpun, apa yang akan kami lakukan dengannya,”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maukah kalian kambing ini untuk kalian?

mereka menjawab,

Demi Allah, seandainya kambing ini hidup, ada cacat padanya, karena kecil salah satu telinganya, maka bagaimana jika kambing tersebut telah menjadi bangkai?

maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ»

“Demi Allah, dunia itu lebih rendah di sisi Allah dari pada bangkai kambing ini atas kalian.”

Itulah gambaran dunia dan kerlap kerlip perhiasannya wahai saudaraku …

Lebih rendah dan lebih hina kedudukannya dibandingkan bangkai kambing yang cacat salah satu telinganya. Semoga Allah ‘azza wa jalla selamatkan kita dari fitnah dunia.

Di dalam as-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim) disebutkan hadits dari sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan,

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?

maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

«أَنْ تَجْعَلَ لِله نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ»

“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padalah Dia lah yang menciptakanmu.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya:

«أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ الله، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللهِ … الحديث»

Maukah kalian aku beritakan tentang dosa besar yang paling besar?

beliau mengucapkannya tiga kali.

Para sahabat menjawab,

Tentu wahai Rasulullah?

Beliau bersabda:

“Menyekutukan Allah ….” (al-Hadits)

Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah Azza wa Jalla, menjadikan tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada suatu hari sahabat yang mulia Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari kiamat?

maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

«أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا الله، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ»

“Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah) ikhlas dari dalam hatinya atau dirinya.”

Adapun berita beliau yang terkait dengan peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang di antaranya adalah:

Sahabat yang mulia Tsauban radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»

“Dan sesungguhnya akan terjadi pada umatku tiga puluh pendusta yang semuanya mengaku bahwa dia adalah nabi, (padahal) aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelahku.”

Wahai saudaraku warga Nahdliyin, semoga Allah mengokohkan kita di atas Sunnah …

Itulah beberapa contoh berita yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadits-hadits di atas, antara lain adalah:

1. Kita wajib membenarkan setiap berita dan kabar yang disampaikan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Haram bagi kita mendustakan setiap berita dan kabar yang disampaikan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Bagaimanapun indahnya perhiasan dunia, walaupun menyilaukan mata germerlap dunia, namun di sisi Allah dunia itu lebih rendah dan lebih hina dibanding seekor bangkai kambing yang cacat salah satu telinganya.

4. Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah Azza wa Jalla dan menjadi tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

5. Orang yang paling bahagia dengan syafa’at Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya dan dirinya.

6. Akan muncul dari umat ini sepeninggal wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi. Berita tersebut telah dibenarkan oleh fakta yang terjadi. Telah munculnya para pendusta yang mengaku dirinya nabi, antara lain: Musailamah al-Kadzdzab, Aswad al-Ansi, Mirza Ghulam Ahmad pencetus gerakan Ahmadiyah dan lain-lainnya.

7. Wajib meyakini bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

8. Siapa yang meyakini masih terbuka lebar peluang untuk menjadi nabi sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah sesat dan mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

9. Siapa yang mengaku menjadi nabi sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia adalah pendusta sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah wahai saudaraku warga Nahdliyin ….

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari beberapa hadits di atas.

Akhirnya kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla semoga Allah anugerahkan kepada kita, kepada para ustadz dan kiai kita pemahaman yang benar terhadap agama ini yaitu pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan semoga Allah menjauhkan kita, para ustadz dan kiai kita dari pemahaman yang menyimpang, yaitu pemahaman yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Amin ya Mujibas sailin.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *