Menerima Perbedaan Tingkat Kehidupan

Menerima Perbedaan Tingkat Kehidupan

“Seharusnya kita semua merasakan yang sama, tidak ada perbedaan. Yang satu bisa merasakan kesenangan dan kemudahan, mengapa yang lain tidak? Semua harus disamaratakan, di segala bidangnya. Jangan lagi istilah ada si kaya dan ada si miskin.”

Kaum muslimin yang semoga dimuliakan Allah, mungkin bagi sebagian orang tua atau kakek nenek kita dahulu, kalimat-kalimat diatas amat sangat sering terdengar di telinga. Setelah sekian lamanya berlabuh, kalimat-kalimat ini dan yang semakna dengannya mulai dilayarkan kembali. Slogan penyamarataan, terkhusus dalam masalah ekonomi, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘sama rata sama rasa’.

Paham komunis, sebuah paham yang mengibarkan slogan ini sejak dahulu kala. Semboyan dan slogan yang cukup efektif untuk membangkitkan “kesadaran” (baca; memprovokasi) kaum papa. Meskipun pada praktek di lapangan, tak seperti apa yang didengungkan. Slogan berlaku hanya pada kelas bawahan saja, sementara petinggi paham ini hidup berleha-leha. Tidak hanya di negeri kita Indonesia, hal yang sama pun terjadi di negeri-negeri yang menghidupkan paham dan ideologi yang satu ini.

Hikmah Perbedaan

Sesungguhnya Allah memiliki hikmah yang besar dalam penciptaan, penentuan takdir, hukum-hukum syariat, kelapangan serta kesempitan rezeki para hambaNya. Hukum-hukum syariat Allah penuh dengan keadilan, rahmat dan kemaslahatan para hamba di kehidupan dunia dan akherat mereka. Allah berfirman;

ومَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Hukum siapakah yang paling adil daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al Maidah : 50).

Dalam hal pemberian rezeki, maka Allah sangat berhak untuk disanjung dan dipuji. Ketika seseorang dilapangkan rezekinya maka dituntut darinya untuk mensyukuri dan menggunakannya sesuai dengan ketentuannya. Bagi yang kurang dilapangkan, hendaknya bersabar. Allah MahaMengetahui yang terbaik bagi hamba-hambaNya.

Allah ‘membagi rezeki masing-masing makhluk, ada yang dilapangkan dan ada yang dipersempit. Semuanya mengandung hikmah besar yang terkadang tidak diketahui oleh selainNya.

Diantara sekian hikmah Allah menetapkan dan membagi rezeki yang berbeda di antara para hamba-Nya adalah;

1. Agar mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusan. Di tangan-Nya penguasaan dan pengaturan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan dan takdir-Nya.

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Hanya milikNya-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syura: 12)

2. Agar mereka dapat mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak. Manusia hidup di dunia dengan keadaan rezeki yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah, mengendarai kendaraan yang mewah, selalu diliputi dengan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki keluarga, harta dan anak. Di antara mereka ada yang pertengahan. Maka demikian pula perbedaan derajat di akhirat kelak yang tentunya lebih besar, lebih nyata, dan kekal.

ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Isra: 21)

Jika gambarannya demikian, sudah seharusnya bagi kita untuk berlomba-lomba dalam meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat.

3. Agar si kaya dapat menyadari jumlah nikmat yang dimudahkan kepadanya untuk kemudian bersyukur kepada Allah sehingga terhitung sebagai orang-orang yang pandai berrsyukur. Di sisi lain, agar si fakir menyadari ujian kefakiran yang diterimanya lalu bersabar sehingga mencapai derajat orang-orang yang mau bersabar. Allah berfirman;

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar : 10)

Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir akan senantiasa memohon kemudahan kepada Rabbnya dan menanti kelapangan dariNya.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *