Tetaplah Waspada!

Tetaplah Waspada!

Harta bukan sebuah jaminan bagi seseorang dapat memperoleh kemuliaan, ketenangan dan kebahagiaan. Berapa banyak manusia yang Allah berikan kemudahan rezeki berupa harta namun belum bisa merasakan harta tersebut dengan sesungguhnya.

Terbukti, ketentraman dan ketenangan jiwa dan hati sama sekali belum tersentuh olehnya, meskipun secara kasat mata tampak bahagia. Namun sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidupnya sederhana bahkan biasa akan tetapi bisa beraktifitas dengan lega. Hati dan jiwanya terasa tenang dan gembira. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah dengan rasa cukup yang ada di dalam jiwa.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Hakikat kaya bukanlah dinilai dari banyaknya harta. Berapa banyak orang yang Allah berikan keluasan harta namun tidak qana’ah (merasa cukup). Justru dia semakin rakus untuk menambah perbendaharaan hartanya tanpa peduli dari mana datangnya. Dengan ketamakan ini dia merasa seakan-akan seorang yang fakir, selalu merasa kurang dan kurang.

Maka kaya yang sejati adalah kaya jiwa dengan bentuk merasa cukup dengan yang ada, lapang dada dan tidak serakah untuk terus menerus menumpuk harta karena dia telah merasa kaya.

Adapun jiwa yang fakir adalah yang tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Bahkan selalu berambisi untuk menimbun kekayaan bagaimanapun caranya. Bila dia tidak mendapatkan apa yang diinginkan, akan merasa kecewa dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta karena dia tidak merasa cukup dan bukan orang kaya.

Kaya jiwa hanyalah akan tumbuh dengan bersikap ridha terhadap ketentuan (takdir) Allah dan berserah diri terhadap ketetapanNya. Mengetahui dan meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan kekal. Dengan ini dirinya akan berpaling dari sifat tamak serta meminta-minta kepada manusia. Pada kesempatan yang lain, baginda nabi bersabda tentang hakikat kemiskinan,

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنَّ الْمِسْكِينَ الَّذِي لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلاَ يَقُوْمُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

“Bukanlah orang miskin itu yang meminta-minta kepada manusia untuk diberi satu dan dua suap makanan serta satu atau dua butir kurma. Namun orang miskin itu adalah orang yang tidak merasa kaya dengan kekayaannya dan tidak menyembunyikan keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya.” (HR. al Bukhari dan Muslim).

Maka syukuri dan nikmati segala pemberian Allah kepada kita!

Jadikan diri kita termasuk orang-orang yang memiliki kaya jiwa dengan merasa cukup dengan yang sudah ada!

Sekali lagi kita sampaikan, harta bukan sebuah jaminan bagi seseorang dapat memperoleh kemuliaan, ketenangan dan kebahagiaan.

Apa yang diproklamirkan oleh kaum komunis dari pemerataan harta sangat penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Sungguh paham komunis bukanlah paham yang benar-benar mendengar dan membela orang-orang kecil. Paham komunis justru akan menghinakan dan menyengsarakan kaum papa.

Paham ini tidak akan mengantarkan kepada kesejahteraan, terkhusus kepada umat islam. Apalalgi yang mencetuskan dan yang menyebarkan adalah orang diluar islam yang sudah dipastikan kebencian dan permusuhannya terhadap islam dan kaum muslimin.

Tetaplah waspada!

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *