ASY’ARIYYAH MAZHAB YANG SELALU DIBELA

ASY’ARIYYAH MAZHAB YANG SELALU DIBELA

Fakta sejarah yang tidak dimungkiri bahwa kemunculan mazhab asy’ariyyah jauh setelah 3 generasi terbaik umat yaitu generasi sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in radhiallahu ‘anhum.

Bahkan mazhab asy’ariyyah barulah muncul setelah berakhir generasi imam empat mazhab yaitu imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad rahimahumullahu.

Namun sangat naif ketika fakta ini tidaklah menyadarkan para petinggi asy’ariyyah yang bersembunyi di balik ormas NU, untuk mengakui bahwa asyariyah bukanlah aswaja apalagi dikatakan aswaja sejati.

Bahkan sangat disayangkan ketika masih didapati para tokoh asy’ariyyah di negeri ini mengklaim bahwa mazhab asy’ariyyah adalah ahlusunnah waljama’ah atau aswaja sejati.

Padahal secara logika seorang awam apalagi yang sedikit memilki ilmu, dia akan mampu menilai hakikat keaswajaan paham asy’ariyah yang diaku.

Bagaimana mungkin sebuah paham dikatakan aswaja sementara munculnya jauh dari generasi utama umat ini dan jauh pula dari imam empat mazhab yang tidak diragukan lagi keaswajaan mereka.

Dengan kata lain paham ini tidak dikenal di kalangan sahabat tabiin dan atbaut tabiin serta para imam empat mazhab.

Sekedar berdalih dengan mayoritas umat di negeri ini yang berpegang dengan mazhab asyariyyah.

Bahkan ribuan ulama katanya berjalan di atas mazhab ini. Sehingga jika mazhab asyariyyah dikatakan sesat berarti ribuan umat dan ulama sesat.

Itulah analogi yang berpijak logika semata jauh dari sikap ilmiah.

Sementara telah maklum bahwa kebenaran diukur dengan keselarasan dengan al quran dan sunnah bukan mayoritas.

Mari kita renungi firman Ilahi dengan hati yang bersih :

وإن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُون
( 116 )

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” [QS. al-An’am 116]

MAYORITAS BUKAN UKURAN KEBENARAN

Dalam ayat di atas Allah ta’ala mengingatkan nabi-Nya shalallahu alaihi wasallam dan tentu pula umat beliau agar tidak terjebak mengikuti kebanyakan manusia.

Artinya janganlah berpedoman kepada mayoritas manusia dalam berislam baik dalam ibadah, amal, muamalat, akhlak, apalagi dalam bab akidah dan iman.

Kenapa tidak boleh mengikuti mayoritas ?

Dengan sangat jelas dan tegas dalam ayat tersebut Allah ta’ala menjelaskan bahwa mayoritas manusia akan mengajak kepada kesesatan dan sikap mengada-ada dalam beragama. Allahul musta’an!

Justeru dalam beberapa ayat Allah ta’ala menyebutkan bahwa hamba yang beriman dan beramal sholeh itu sedikit. Yang bersyukur dan istiqomah dalam ibadah sedikit sekali. Antara lain firman-Nya :

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ

dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini” [ QS. Shad 24 ].

Dalam ayat lain Allah berfirman :

 وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” [QS. Saba 13 ].

Maka dari sini bisa kita simpulkan bahwa kebenaran tidaklah dinilai dengan mayoritas, akan tetapi kebenaran itu dinilai dengan sejauh mana keselarasan serta kecocokan dengan al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman generasi sahabat.

Namun orang yang mau berjalan dan berpegang dengan kebenaran amatlah sedikit, semoga kita termasuk golongan yang sedikit itu…

Amiin!!

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *