Bimbingan Shahabat Nabi Saat Berpuasa

Bimbingan Shahabat Nabi Saat Berpuasa

Alangkah indah sebuah petuah yang disampaikan oleh shahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu;

إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع أذى الجار وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء

“Apabila engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaran, pandangan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari berkata dusta dan segala yang diharamkan. Demikian pula janganlah engkau mengganggu tetangga. Hendaklah engkau menjadi orang yang tenang dan jangan engkau jadikan keadaan hari puasamu dengan hari tidak berpuasamu sama tidak ada beda.” (Lathaif al-Ma’arif)

Petuah, wejangan dan nasihat yang singkat namun padat. Dalam pengamalannya bisa menjadi suatu hal yang gampang dan ringan bagi yang diberi taufik oleh Allah ta’ala. Namun sebaliknya, menjadi suatu yang susah dan berat bagi yang tidak diberikan kemudahan oleh-Nya.

Tentu nasihat beliau berlaku bagi setiap kita kaum muslimin. Tinggal sekarang bagaimana realita di lapangan. Yang terjadi kebanyakan justru tidak sesuai dengan apa yang dimaukan.

Coba kita telisik satu persatu ritualitas masyarakat negeri ini;

1. Mulai dari waktu makan sahur yang terlalu “dini”.

Memang tidak masalah jika makan sahur dini, namun tentunya ada beberapa hal yang jadi bahan koreksi. Misalkan, yang demikian ini tidak mencocoki sunnah nabi karena beliau menghimbau untuk mengakhirkan makan sahur.

Yang lainnya, karena waktu makan sahur masih agak jauh dari waktu shalat shubuh, daripada menunggu terlalu lama maka lebih baik tidur kembali, pikirnya.

Tahukan bagaimana jika tidur dalam kondisi kenyang?

Akhirnya bangun kesiangan plus shalat shubuh berjamaah kelewatan.

Kalau sudah begini bagaimana mau tadarusan?

Yang muda mudi juga sangat “pintar” memanfaatkan waktu setelah shubuh. Bermake up sedikit lalu keluar rumah “menikmati” indah dan segarnya udara pagi dan “pemandangan-pemandangan yang lain.”

2. Kegiatan berikutnya, bagi yang punya pekerjaan tentu akan terburu-buru dengan sebab bangun kesiangan.

Yang sedang tidak punya aktifitas atau libur sebagiannya melanjutkan mimpi indah di lautan kapuk hingga siang hari. Kemudian shalat dan dilanjutkan kembali bermimpi. Sehingga hari-hari puasa baginya adalah hari-hari puasa (baca; istirahat) dari segala macam aktifitas, termasuk membaca al-Qur’an. Yah, yang penting tetap shalat 5 waktu, celetuknya. Rasa malas jadi teman keseharian saat bulan Ramadhan.

Ada juga yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk bercengkerama dengan Hp kesayangan, berinternet dan berchating ria tiada henti atau bermain game sesuka hati. Atau setidaknya menikmati kajian televisi yang sudah dipastikan banyak hal-hal yang melalaikan dan menimbulkan “luka” bagi puasanya.

Tidak kalah banyaknya, sengaja berkumpul atau bertemu dengan kawan atau tetangga untuk memperbincangkan hal-hal yang asyik (baca; ghibah atau adu domba atau ngobrol tanpa ada faidah justru malah mafsadah).

3. Lalu jadwal berikutnya saat sore hari. Ini acara yang ditunggu-tunggu, ngabuburit+cari bukaan+cuci mata, nunggu maghrib katanya.

Apalagi yang sedang kasmaran dengan si jantung hati, sore hari waktu yang tepat untuk saling “berbagi”. Hari-hari puasa justru lebih intensif lagi ketimbang hari-hari biasa.

Bagi para ibu-ibu, waktu sore juga waktu sibuk-sibuknya menyiapkan berbuka. Bahkan dari pagi sudah dirancang hidangan apa yang akan disajikan nanti malam. Keinginan dan target:

“Hari ini berapa juz dari al-Qur’an yang harus dibaca.”

mungkin jarang terbesit dalam jiwa. Bukan berarti lepas tanggungjawab masalah dapur, tapi tentunya perlu manajemen yang tepat dalam memanfaatkan bulan ramadhan.

4. Lalu malam hari.

Alhamdulillah di awal-awal ramadhan masjid-masjid mengalami kemajuan dalam kuantitas jamaahnya. Namun semakin hari ramadhan berlalu masjid-masjid juga mengalami kemajuan dalam jumlah shaf shalatnya.

Entah bagaimana bisa terjadi, kira-kira apa yang dilakukan di rumah-rumah kaum muslimin saat itu?

Yah mungkin ada yang beristirahat bersama keluarga atau berolahraga?

Jika demikian tersebut keadaan kita, kapan waktu untuk membaca dan mengkhatamkan al-Quran?

Kapan waktu untuk bertaubat dan beritighfar?

Mungkinkan petuah Shahabat Nabi yang mulia Jabir bin Abdilllah radhiallahu ‘anhu di atas bisa direalisasikan?

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *