Lebih Tajam Dari Sebilah Pedang

Lebih Tajam Dari Sebilah Pedang

Tidak ada yang pantas untuk kita lakukan selain senantiasa bersyukur kepada Allah ta’ala atas curahan nikmat-Nya kepada kita semua. Bagaimana tidak, siapapun kita dan bagaimanapun kondisi kita disadari atau tidak selalu dan selalu berada di atas kenikmatan dari-Nya. Karena tentunya nikmat itu tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat materi saja. Keyakinan yang benar, keamanan, kesejahteraan adalah beberapa bentuk nikmat lainnya yang tidak berbentuk materi.

Maka sungguh benar ketika Allah ta’ala menyatakan dalam sebuah ayat-Nya;

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ ﴿٣٤﴾

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghitungnya.” (Ibrahim: 34)

Disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi dalam kitab beliau Syiar A’lamin Nubala sebuah kisah yang sangat bermanfaat untuk kita mengetahui banyaknya nikmat Allah yang ada pada kita.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari seorang tabi’in yang bernama Yunus bin Ubaid didatangi seseorang yang berkeluh kesah akan kehidupannya yang senantiasa diliputi kesulitan dan kesempitan.

Lalu Yunus bertanya kepadanya:

“Senangkah anda jika mata anda saya beli dengan harga seratus ribu dinar?”

Orang tersebut menjawab:

“Tidak.”

“Telinga anda”

tanya Yunus.

“Tidak.”

jawabnya.

“Lidah anda.”

Dia menjawab:

“Tidak.”

“Akal anda.”

“Tidak.”

jawabnya kembali.

Maka Yunus terus mengingatkan dan menanyakan nikmat Allah yang lainnya yang ada pada orang tersebut.

Di akhir percakapan Yunus menyatakan:

“Saya melihat jutaan dinar ada pada diri anda, namun anda masih mengeluh?”

Lisan bagian dari nikmat

Di antara nikmat terbesar yang kita rasakan adalah lisan atau lidah. Dengannya kita dapat berbicara dan bercakap serta berinteraksi dengan yang lain.

Sebagaimana nikmat yang lain, lidah itupun menuntut dari pemiliknya untuk bersyukur kepada Allah ta’ala dengan cara memanfaatkannya untuk perkara ketaatan dan kebaikan  dan tidak menggunakannya untuk perkara kemungkaran dan kejelekan.

Saudaraku para pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala

Perkara yang maklum dan sering kita dengar bahwa yang namanya lidah memang tidak bertulang, sehingga mudah untuk bergerak dan berucap. Namun meskipun demikian, ternyata anggota badan yang satu ini mampu melakukan urusan yang besar, yang terkadang tak dimampui bahkan oleh sebilah pedang yang tajam.

Sehingga suatu hal yang wajar jika lidah itu bisa menjerumuskan dan mengantarkan pemiliknya menuju kebinasaan dunia akhirat. Demikian pula sebaliknya, bisa menyebabkan pemiliknya mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Tergantung bagaimana si empunya memanfaatkannya.

Sunnatullah yang ada memaparkan bahwa ternyata anggota badan ini yang paling banyak mejerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.

Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «التَّقْوَى، وَحُسْنُ الْخُلُقِ» ، وَسُئِلَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّارَ؟ قَالَ: ” الْأَجْوَفَانِ: الْفَمُ، وَالْفَرْجُ “

“Nabi pernah ditanya tentang perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga. Beliau menjawab “Ketakwaan dan perangai yang baik.” Beliau juga ditanya mengenai perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka. beliau menjawab “Dua lubang; Mulut (yakni lisan) dan kemaluan.” (HR. Ibnu Majah)

Di hadits yang lain baginda nabi pernah bersabda ketika ditanya oleh Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu;

يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»

“Wahai nabi Allah, apakah akan dipertanggung jawabkan dengan apa-apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda: “Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah dijerumuskannya manusia kedalam neraka  dengan wajah tersungkur tidak lain dikarenakan hasil dari lidah-lidah mereka?” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau juga pernah bersabda;

وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu pembicaraan yang mendatangkan murka Allah dan dia tidak peduli dengan apa yang dia ucapkan tersebut, ternyata hal tersebut menjermuskannya ke dalam neraka Jahanam.” (HR. al-Bukhari)

Demikianlah tajamnya lisan, bahkan lebih tajam dari pedang.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *