Lembut Tak Bertulang, Penentu Keselamatan Atau Kecelakaan

Lembut Tak Bertulang, Penentu Keselamatan Atau Kecelakaan

Telah kami sampaikan beberapa hadits yang meyebutkan tentang bahaya lidah ini jika tidak dijaga dengan baik.

Silakan baca kembali di:

http://www.yuk-kenal-nu.net/2016/02/23/lebih-tajam-dari-sebilah-pedang/

Padahal anggota tubuh yang satu ini jika dimanfaatkan dengan benar dan syar’i akan membawa kebaikan yang besar.

Nabi menyatakan;

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian berbicara dengan suatu pembicaraan yang mendatangkan keridhaan Allah. Dia tidak mengira apa yang dia raih  maka Allah mencatat baginya dengan ucapan tersebut keridhaan-Nya hingga hari kiamat.”
(HR. Ibnu Majah)

Namun sangat menyedihkan, di masa kita hidup sekarang begitu banyaknya insan yang tidak bisa mengantisipasi tajamnya lidah. Tidak ada lagi istilah kaku untuk mengucapkan setiap kata yang dimau tanpa menimbang dan memikirkan baik buruknya ucapan tersebut.

Dirinya sudah terjangkiti berbagai penyakit lidah, mulai dari ghibah, provokosi, pembelaan terhadap kemaksiatan, berkomentar tanpa ilmu yang kemudian melahirkan kebiasaan mencela dan mengolok-olok sunnah sampai akhirnya mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa membawa kepada kekufuran.

Ironisnya lagi, yang melakukan itu semua bukanlah mereka-mereka yang “tidak perlu diperhitungkan”, namun ternyata “para pembesar-pembesar” yang katanya sudah banyak makan garam dan makan bangku sekolahan, bahkan bangku kuliahan. Dengan nyamannya mereka melontarkan berbagai macam statement yang sangat menyakiti hati seorang muslim yang masih suci dan bersih.

Tidakkah mereka sadar bahwa apa yang dilakukan semua akan diminta pertanggungjawabannya?

Tidakkah mereka mau membuka mata dan telinga untuk sadar bahwa lisan mereka akan menjadi saksi kelak dihadapan Allah?

Akankah mereka hidup selamanya di muka bumi ini dan tidak kembali kepada Sang Ilahi?

Tidakkah mereka takut dengan makar Allah dan siksanya yang sangat pedih?  

Atau sebenarnya mereka sadar dan mengerti, tapi hawa nafsu menguasai?

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ ﴿٩٧﴾ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ ﴿٩٨﴾ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّـهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّـهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩٩﴾

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.“ (al-A’raf: 97-99)

Semoga kita semua mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah ta’ala untuk dapat memanfaatkan dan menggunakan seluruh nikmat-Nya yang ada pada diri kita di atas ketaatan kepada-Nya.

Kita pun berdoa kepada-Nya agar memberikan sepercik cahaya taubat dalam hati yang mampu mengembalikan mereka-mereka yang masih terjatuh ke dalam pelanggaran-pelanggaran, yang masih merasa aman dan nyaman saat melewati batasan-batasan syariat agama-Nya yang mulia ini.

Karena sesungguhnya Allah itu Maha penerima taubat dan Maha pengampun.

Amin ya mujibas sailin.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *