Semuanya Pasti Akan Binasa

Semuanya Pasti Akan Binasa

Setiap insan pasti menyadari bahwa hidupnya di dunia ini bukanlah sejak zaman azali. Allah ta’ala telah menciptakannya dari ketiadaan hingga iapun terlahir di bumi untuk menjalani kehidupan ini. itulah kebenaran yang pasti dan tak terbantahkan lagi.

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ‌ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورً‌ا ﴿١﴾ إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرً‌ا ﴿٢﴾ إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرً‌ا وَإِمَّا كَفُورً‌ا ﴿٣﴾

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (1) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (2) Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan: 1-3)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَ‌ابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِ‌جُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٦٧﴾

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai menjadi tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).” (Ghafir: 67)

Sebagaimana kebenaran bahwa kita telah ada dari ketiadaan, demikian pula lah bahwa hidup ini pasti memiliki kesudahan. Setelah menjalani jatah usia yang telah Allah ta’ala tetapkan, setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian.

Allah ta’ala telah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْ‌جَعُونَ ﴿٥٧﴾

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Kemudian hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Al-Ankabut: 57)

Kedatangannya adalah suatu kepastian bagi setiap yang bernyawa. Melarikan diri ke pelosok desa, bersembunyi dalam dasar samudera, berlindung dalam benteng kokoh berlapis baja, adalah upaya sia-sia dan tak berarti apa-apa. Jika memang ajal itu telah tiba, maka kematian tak mungkin lagi bisa ditunda.

Sebagaimana dalam firman-Nya,

 أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِ‌ككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُ‌وجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ ﴿٧٨﴾

Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan mendatangimu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa’: 78)

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُ‌ونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٣٤﴾

Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) dapat memajukan(nya).” (Al-A’raf: 34)

Para ulama terdahulu ada yang mengatakan,

كفى بالموت واعظا , وكفى باليقين غنى , وكفى بالعبادة شغلا

“Cukuplah kematian itu sebagai nasihat, keyakinan sebagai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan.”

Sebuah petuah yang sangat berharga, dan benarlah apa yang dikatakannya. Bahwa cukuplah kematian itu menjadi nasihat dan teguran yang menyadarkan kita dari kelalaian dalam menjalankan ibadah kepada Allah ta’ala.

Berbaurnya kita dengan keindahan fana dunia telah melupakan kita akan kampung akhirat yang pasti datang setelah kita meregang nyawa. Maka mari kita sadar, berbenah dan berbekal untuk menyongsong kejayaan di negeri akhirat dengan bekal takwa.

Allah ta’ala ingatkan hamba-hamba-Nya dalam salah satu ayat-Nya,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ‌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَ‌ضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَ‌فَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ‌ يَعْلَمْهُ اللَّـهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ‌ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٧﴾

Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”(Al-Baqarah: 197)

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *