Seruan Para Rasul

Seruan Para Rasul

Merupakan suatu kenikmatan besar yang Allah ta’ala anugerahkan kepada umat manusia dengan diutusnya para rasul alaihisalam ke tengah-tengah mereka. Hadirnya para rasul tersebut laksana pelita dalam pekat gulita dunia, ibarat oase segar nan jernih dalam cengkraman sahara ganas nan pedih. Hadirnya dinanti-nanti, keberadaanya menebar ketentraman di hati, petuahnya meneguhkan jiwa untuk senantiasa tegar di atas jalan lurus yang dititi, dan ketiadaanya berarti musibah yang tak tertandingi.

Allah ta’ala berfirman,

 لَقَدْ مَنَّ اللَّـهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَ‌سُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ ﴿١٦٤﴾

Sungguh Allah telah memberikan anugerah (yang besar) kepada orang –orang yang beriman ketika Ia utus ke tengah-tengan mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri…” (Ali Imran: 164)

Allah ta’ala, dengan kasih sayang-Nya Yang Maha Luas telah mendelegasikan seorang rasul pada tiap-tiap umat untuk membimbing mereka dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّ‌سُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ  ﴿٣٦﴾

Dan sungguh telah kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (yang mereka menyerukan), ’beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut.‘”  (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْ‌سَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّ‌سُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿٢٥﴾

Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul pun sebelummu melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya, ‘tidak ada sesembahan yang haq selain Aku, maka beribadahlah kepadaKu (saja).” (Al-Anbiya’: 25)

Pada ayat di atas dengan gamblang Allah ‘azza wa jalla sebutkan bahwa wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul adalah terkait permasalahan tauhid, dan tauhid itu pula lah yang menjadi suara dakwah dan substansi ajaran yang diserukan oleh seluruh nabi dan rasul di tengah-tengah umatnya.

Masing-masing datang kepada umat yang berbeda-beda, pada masa yang berbeda-beda, dengan membawa syariat yang berbeda-beda pula. Namun tauhid yang merupakan asas pokok dan mutlak yang mereka dakwahkan tidaklah mengenal adaptasi ataupun koreksi di hadapan umat manapun dan di zaman apapun.

Tauhid berarti mengesakan Allah ta’ala, baik dalam perbuatan-perbuatan-Nya, ibadah seluruh makhluk kepada-Nya maupun dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Jika kita simak kembali firman Allah ta’ala di atas, kita pun mengetahui bahwa tauhid yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah tauhid ibadah. Tauhid yang diserukan oleh seluruh nabi dan rasul kepada umatnya tersebut adalah agar ‘beribadah kepada Allah ta’ala semata’.

Maksudnya adalah bahwa seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah haruslah murni ditujukan untuk-Nya semata. Tidak dicampuri oleh tujuan-tujuan lain, apalagi murni ditujukan untuk selain-Nya.

Inilah yang dimaksud dengan ikhlas. Yaitu niatan murni seorang hamba dalam ibadahnya yang hanya ditujukan untuk meraih keridhaan Allah ta’ala semata. Untuk itulah mereka diciptakan, dan untuk itulah mereka hidup.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

وَمَا أُمِرُ‌وا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ  ﴿٥﴾

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya kepada-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

Dari sini tampaklah urgensi tauhid, terkhusus tauhid uluhiyyah.

Lantas, sebagai seorang muslim sudahkah kita mengoreksi tauhid kita?

Sudahkan kita memurnikan keikhlasan hati dalam beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla?

Wallahu A’lam.

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *