Terbunuhnya Pemuka Para Pemuda Surga, Husein bin Ali bin Abi Thalib (bagian pertama)

Terbunuhnya Pemuka Para Pemuda Surga, Husein bin Ali bin Abi Thalib (bagian pertama)

Syahdan, peristiwa ini bermula saat pergantian kekhalifahan dari Mu’awiyah ke anaknya yang bernama Yazid bin Mu’awiyah. Pencalonan Yazid ini terjadi ketika Mu’awiyah masih hidup.

Diantara para sahabat yang enggan untuk berbaiat kepada Yazid adalah Husein bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin az Zubair, Abdurrahman bin Abi Bakr, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas.

Ketika Mu’awiyah wafat pada tahun 60 H yang kemudian Yazid dibaiat sebagai khalifah, maka Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas yang sebelumnya tidak mau berbaiat akhirnya berbaiat. Adapun Abdurrahman bin Abi Bakr tetap di atas pendiriannya hingga beliau wafat. Demikian pula Husein dan Abdullah bin az Zubair, mereka berdua tetap tidak berbaiat kepada Yazid bahkan keduanya keluar dari Madinah menuju ke Makkah dan menetap disana.

Saat tinggal di Makkah, banyak para penduduk yang datang kepada Husein dan mendengarkan petuah-petuah beliau. Adapun Ibnu az Zubair berdiam diri di Musholla beliau yang terletak di samping Ka’bah. Berita tentang kepergian Husein dari Madinah ke Makkah karena tidak mau berbaiat kepada Yazid setelah wafatnya Mu’awiyah terdengar oleh penduduk Irak. Mereka lalu mengirim surat-surat kepada Husein. Sungguh Husein banyak mendapatkan kiriman surat dari penduduk Irak yang mereka kirimkan melalui beberapa delegasi yang diutus langsung untuk menghadap beliau.

Surat-surat tersebut berisi ucapan selamat atas wafatnya Mu’awiyah dan undangan untuk beliau agar datang ke negeri mereka. Mereka juga membicarakan dan mengeluhkan kepemimpinan Mu’awiyah dan menyatakan bahwa mereka belum berbaiat kepada siapapun sampai sekarang. Oleh karena itu mereka menunggu kehadiran Husein di Irak untuk kemudian berbaiat kepada beliau. Maka untuk memastikan kebenaran berita ini, Husein mengutus anak pamannya yang bernama Muslim bin ‘Aqil bin Abi Thalib ke negeri Irak dengan membawa sepucuk surat untuk penduduk Irak yang berisi jika sekiranya beritanya benar maka beliau akan datang kesana berserta rombongan keluarganya.

Ketika Muslim bin ‘Aqil tiba di Kuffah, beliau singgah di rumah seseorang yang bernama Muslim bin ‘Ausajah al Asadi, ada juga yang mengatakan singgah di rumah al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats Tsaqafi. Para penduduk Kuffah mendengar berita datangnya Muslim bin ‘Aqil hingga akhirnya mereka berbondong-bondong menuju rumah tersebut dan berbaiat atas kepemimpinan Husein kepada utusan tersebut. Mereka bahkan bersumpah dihadapannya untuk membantu dan menolong Husein dengan jiwa dan harta mereka.

Penduduk Kufah yang berbaiat waktu itu berjumlah 12.000 orang kemudian bertambah banyak hingga mencapai 18.000 orang. Melihat keadaan yang demikian ini, Muslim bin ‘Aqil mengirim surat kepada Husein agar segera datang ke Kuffah. Setelah Husein mendapatkan kabar dari Muslim bin ‘Aqil tentang keadaan yang dia alami di Kuffah dan berharap untuk segera datang, beliaupun mempersiapkan diri untuk berangkat kesana memenuhi panggilan dan permintaan tersebut.

Bersambung …..

Kolom Pembaca

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *